Sunday, June 30, 2019

5 Kebohongan Yg Diperbolehkan dalam Hindu

Hindu memperbolehkan lima kebohongan ini untuk dilakukan

Berbohong adalah pernyataan yang salah dibuat oleh seseorang dengan tujuan agar pendengar dapat mempercayai akan apa yang disampaikan dan Secara umum berbohong merupakan perbuatan dosa (Adharma) yang melanggar norma-norma agama, sehingga semua agama melarang perbuatan ini untuk dilakukan. Namun di dalam kitab suci Cānakiya Nītīśāstra 7.12 disebutkan;

Nātyantaṁ saralairbhāvyaṁ gatvā paśya vanasthalīm,
Chidyante saralāstatra kubjāstiṣṭhantipādapāḥ.

Artinya: Janganlah hidup terlalu lurus atau terlalu jujur, sebab begitu Anda pergi ke hutan Anda akan
melihat bahwa pohon-pohon yang lurus ditebang, sedangkan pohon yang bengkok dibiarkan hidup.

Dari kutipan sloka tersebut menyelaskan bahwasanya kita diperbolehkan untuk berbohong, hal ini pun dipertegas dengan kitab suci Slokāntara 69 (22) yaitu;

Narma syad wacanam yaddhi prānadrawyarakṣsne ca,
Strisu wiwāhakale tu pañcanṛtam na patakam.

Artinya: Ada lima macam kebohongan yang dapat dianggap bukan dosa yaitu; lelucon, ucapan yang
menyebabkan orang tertawa, ucapan untuk menyelamatkan jiwa, ucapan untuk menyelamatkan
harta kekayaan, menyelamatkan anak dan istri dan juga pada waktu bersenggama atau bercumbu
rayu. Kalau upacan itu berbohong, kebohongan ini diperbolehkan.

Sumber: steemit.com

Nah dari sloka di atas sangatlah jelas  dan juga menjawab pertanyaan yang timbul dari sloka pertama bahwa kita diperbolehkan berbohong dan  ada lima macam bentuk kebohongan yang diperbolehkan yaitu, berbohong saat sedang berseda gurau atau ucapan yang membuat orang lain dapat tertawa, berbohong untuk melindungi jiwa kita, untuk melindungi harta benda yang kita miliki, menyelamatkan anak dan istri dan juga ketika sedang bersenggama atau bercumbu rayu. Kelima bentuk kebohongan ini disebut dengan pañcanṛta.
Di zaman sekarang ini pengecualian keberbohong itu tetap ada, hanya orang-orang yang dibohongi itu berlainan yaitu :

  1. Berbohong kepada anak-anak, contohnya tidak boleh  makan sambil tidur nanti bisa jadi ular atau makan tidak boleh dengan bersuara nanti bisa jadi babi. Secara ilmiah hal ini tidak akan terjadi dimana manusia berubah menjadi hewan hanya karena makan bersuara atau sambil tiduran. Namun hal ini sering dilakukan oleh orang yang lebih tua agar anak kecil memiliki etika dan sopan satun.
  2. Berbohong saat berdagang, untuk mendapatkan keuntungan diperbolehkan untuk berbohong, sebagai salah satu contoh yaitu seorang pedagan akan menjual barang dagangannya dihitung dari harga pokok ditambah transport dan biaya-biaya lainnya. Karena jika ia menjual barang dagangannya hanya dengan harga pokok maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa dan cenderung akan merugi serta tidak dapat menghidupi keluarganya. Oleh karena itu berbohong diperbolehkan.
  3. Berbohong kepada musuh, untuk melindungi jiwa kita dan bahkan orang banyak hal ini harus kita lakukan, seperti halnya yang dilakukan oleh Yudhistira kepada guru Drona diperang besar Kuru Setra untuk menyelamatkan banyak orang maka hal ini diperbolehkan.
  4. Berbohong kepada pasangan, berbohong kepada pasangan ini diperbolehkan untuk menjaga keharmonisan di dalam rumah tangga. Sebagai salah satu contoh yaitu ketika pasangan kita memasakan makanan untuk kita apapun rasanya walaupun itu tidak enak kita tetap harus memujinya. Meskipun ini bentuk kebohongan namun hal ini diperbolehkan untuk menjaga keharmonisan rumah tangga dan juga sebagai bentuk penghargaan atas segala usaha yang telah dilakukan oleh pasangan kita.
  5. Berbohong kepada orang sakit, berbohong kepada orang sakit ini diperbolehkan untuk kepentingan dirinya dan juga demi kesembuhannya. Sebagai salah satu contoh ketika orang sakit yang menyebabkan dirinya harus disuntik maka kita sering mengatakan suntik itu tidak sakit cuma seperti digigit semut. Hal ini seringkali dilakukan agar orang yang sakit mau untuk disuntik atau berbohong kalau rasa obat itu manis agar ia mau meminumnya. Semua bentuk kebohongan ini diperbolehkan.

Nah itulah tadi lima kebohongan yang diperbolehkan untuk dilakukan dan tidak dianggap dosa yang ada didalam agama Hindu.

Sumber :
Darmayasa Made. 2014. Cānakiya Nītīśāstra. Paramita. Surabaya. 

Tjok Rai Sudharta. 2003. Slokāntara. Paramita. Denpasar.

Wednesday, June 12, 2019

PENGUNAAN TASBIH (MALA) DALAM JAPA

Seperti juga manfaat lingkungan sekeliling yang penting diperhatikan dalam ber-japa, demikian pula berbagai bentuk manik-manik tasbih atau mala (genitri), yang digambarkan sebagai berikut.

Perhitungan japa melalui jari-jari tangan dengan ujung jempol, adalah 8 kali manfaatnya; sedangkan perhitungan dengan memakai biji-biji dari pohon suci yang disebut Putrajiva,  memberikan manfaat 10 kali. Manik-manik yang terbuat dari kulit kerang memberikan manfaat 100 kali; sedangkan penghitungan dengan manik-manik dari batu mulia memberikan manfaat 1.000 kali dan pengitungan memakai permata memberikan manfaat 10.000 kali, demikian pula manik-manik dari mutiara memberikan manfaat sebanyak 100.000 kali. Dan tasbih yang manik-maniknya terbuat dari biji bunga teratai memberikan manfaat 10 kali dari pada yang terdahulu, sama seperti pemakaian tasbih dengan manik-manik yang terbuat dari emas, yang memberikan manfaat sebanyak 1 juta kali. Lebih dari semuanya itu, simpul dari rumput Kusa, manik-manik dari pohon Tulasi, serta pohon Rudaksa suci memberikan hasil yang tak terbatas.

Para pemuja Visnu mempergunakan tasbih dengan manik-manik dari pohon Tulasih, sedangkan bagi pemuja Ganesa, pemakaian tasbih dengan manik-manik yang terbuat dari gading gajah sangatlah bermanfaat. Para pemuja Devi Kali dan Siva mempergunakan manik-manik yang terbuat dari kayu cendana dan Rudaksa.
Dalam Kalika Purana, dinyatakan bahwa untuk memenuhi keinginan tertentu disarankan untuk menggunakan tasbih dengan manik-manik tertentu, guna mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya. Tasbih yang terbuat dari simpul-simpul rumput rumput Kusa dianggap menghancurkan segala dosa. Tasbih dari pohon Putrajiva, memberikan putra dan tasbih dari Kristal memenuhi segala keinginan. Tasbih dari batu karang memberikan kekayaan. Selain itu secara jelas dinyatakan bahwa pada satu untaian tasbih tidak diperkenakan terdiri dari berbagai jenis manik-manik.

Dalam Sanatkumara Samhita, dinyatakan juga tentang tali serta warna tali perangkai manik-manik tasbih. Tali (benang) dari bahan kapas memenuhi emapat macam kegunaan, yaitu Dharma (Hukum Tuhan), Arta (kemakmuran), Kama (keinginan dan kenikmatan), dan Moksa (pembebasan). Benang putih memberikan kedamaian benang merah untuk menarik perhatian; benang kuning untuk keperluan diri sendiri; dan benang hitam guna kekayaan duniawi maupun spiritual. Kadang-kadang warna benang dipilih sesuai dengan kedudukan sosial dalam masyarakat, seperti warna putih untuk brahmana (pendeta), warna kuning untuk para prajurit dan warna hitam untuk pengusaha; sedangkan warna merah diperuntukan bagi semua warna atau golongan masyarakat.

Bentuk tasbih atau mala hendaknya tampak seperti ekor sapi atau seperti lilitan ular dan harus disucikan dengan kombinasi sakral lima macam cairan seperti susu, madu, ghee cair (sari susu), gula dan air yang disebut pancagawya. Guru yang mensucikan mala tersebut mengucapkan mantra suci yang disebut Sadyojata Mantra, yang memberikan kelahiran baru ke dalam kehidupan spiritual. Oleh karena itu ia memberikan pembebasan kepada si pengucap mantra. Lalu mala tersebut dipuja dengan pemanggilan enerji penciptaan untuk memasukkannya. Dengan demikian tasbih atau mala tersebut hendaknya dipuja dan dipergunakan dalam pengulangan mantra suci. Dalam suatu keadaan apabila tasbih itu jatuh atau pecah, menandakan sesuatu hal yang kurang baik dan untuk menyucikannya seseorang harus mengucapkan kata Hriṁ serta mengucapkan nama suci Tuhan sebanyak 108 kali.

Duduklah dalam sikap padmasana secara santai; pegang mālā pada tangan kanan, diangkat dengan tiga jari, yaitu jari tengah, jari manis dan kelingking. Hitunglah jumlah manik-manik dengan mendorongnya satu persatu dengan jempol dan jari tangan dan sesuai dengan aturan yang berlaku, jari telunjuk jangan dipergunakan dalam berjapa, karena telunjuk ego pribadi yang dipisahkan. Apabila telah mengakhiri hitungan 108 kali, jangan melangkahi Meru (manik-manik yang membatasi untaian japa mala/tasbih) sebaiknya memutar kembali atau membalik tasbih untuk melengkapi sadhanamu. Perhitungan mantra dan manik-manik hendaknya berjalan bersama-sama, hingga kamu mengatasi kesadaran badan; ketika nafas dan pemikiran dari pikiran itu sendiri bertindak sebagai manik-manik. Semoga Tuhan memberkahimu sehingga kamu dapat mencapai puncak pengalaman dalam kehidupan ini melalui sadhana spiritual.

Baca: Maha Rsi Markandeya Satu-Satunya Manusia Yang Selamat Dari Kiamat/ Maha Pralaya!

Sumber : Maswinara I Wayan. 2009. Gayatri Sadhana Maha Mantra Menurut Weda. Paramita Surabaya.

Saturday, June 8, 2019

Maha Rsi Markandeya Satu-Satunya Manusia Yang Selamat Dari Kiamat/ Maha Pralaya.

Dalam kitab suci Wana Parwa dijelaskan tentang perputaran yuga-yuga dan juga peristiwa yang akan terjadi di akhir zaman sampai dengan Maha Pralaya terjadi dan mengenai akan hal itu disabdakan langsung oleh Maha Rsi Markandeya kepada Prabu Yudhistira di Dwapara Yuga. Rsi Markandeya adalah putra dari Rsi Markandu keturunan dari dinasti Bhargawa (Bhrigu).

Kisah ini diawali dari pertanyaan Yudhistira kepada Rsi Markandeya mengenai terjadinya kiamat (Pralaya), melihat akan ketulusan hati Prabu Yudhistira akhirnya Rsi Markandeya berkenan memaparkan apa yang pernah dialami beliau kepada Yudhistira, terutama menjelang terjadinya kiamat, beliau mengambarkan keadaan alam semesta berserta isinya menjelang akan kiamat.


  1. Menjelang akhir zaman manusia banyak yang tidak jujur, tidak patuh lagi menjalankan upacara, dana-punia dan tapa-brata
  2. Mereka yang menjalankan kebajikan (kebaikan) dengan patuh jatuh miskin, dan pendek umur, sebaliknya mereka yang penuh dosa berumur panjang sampai 40 tahun dan mendapat kemakmuran
  3. Brahmana melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh sudra dan tidak lagi mempelajari Veda
  4. Umur manusia pendek, tuna kemampuan dan tidak mempunyai tenaga. Bentuk perawatannya kecil-kecil dengan tinggi 84 cm dan jarang sekali berkata benar (jujur)
  5. Wanita pada umur 8 tahun sudah menjadi ibu, sedangkan lelaki pada umur 12 tahun sudah menjadi ayah
  6. Orang-orang yang berumur 16 tahun sudah tua renta dan sakit-sakitan sehingga cepat mati
  7. Orang tidak lagi menjalankan Catur Asrama
  8. Orang-orang tidak suci lagi baik pikiran, perkataan, maupun perbuatannya
  9. Dunia tidak menemui kebajikan lagi dalam bentuk apapun
  10. Brahmana yang berpura-pura mengenakan jubah seperti Sanyasin, ternyata ingin mengumpulkan kekayaan melalui perdagangan
  11. Pasraman-pasraman penuh berisi manusia berdosa
  12. Para saudagar dan pedagang penuh dosa karena menjual barang menggunakan timbangan yang palsu dan ukuran yang tidak benar
  13. Kebajikan kehilangan daya kekuatan, sebaliknya dosa menjadi sangat kuat
  14. Kejahatan meraja rela dimana-mana
  15. Orang-orang mencari penyelesaian atas dasar kekerasan (membunuh)
  16. Orang-orang yang sedikit beruntung menjadi sombong, akuh, egois dan pelit
  17. Wanita mempunyai perangai yang tidak baik, bahkan menipu suaminya yang baik
  18. Orang-orang berbuat cabul di tempat-tempat hiburan umum
  19. Orang meninggal banyak tidak terkuburkan
  20. Terjadi bencana alam (gempa, gelombang laut, banjir, kemarau berkepanjangan dll)
  21. Terjadi musim kemarau panjang, sehingga manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan kurang makan, sehingga banyak mati
  22. Dewa Indra tidak lagi menjatuhkan hujan menurut musimnya sehingga tanaman tidak tumbuh sebagaimana mestinya
  23. Tujuh buah matahari yang tampak di cakrawala, mengisap semua air di bumi dan laut, sehingga bumi menjadi kekering, yang menyebabkan tanaman, hutan menjadi kering lalu terbakar hangus
  24. Bumi menjadi membara karena panas tujuh buah matahari
  25. Api Samwartaka yang besarnya seribu yojana itu berkobar terus lebih dasyat lagi, lalu menghanguskan alam semesta dengan segala isinya
  26. Di angkasa menjulang tinggi awan yang tebal dan mengerikan dalam aneka warna dan segera cair menjadi air hujan yang sangat lebat dan segera menggenangi seluruh permukaan alam semesta
  27. Air laut meluap-luap sampai menutupi seluruh bumi, gunung-gunung runtuh akibat genangan air
  28. Manakala bumi tenggelam ke dalam air, maka semua makhluk baik di alam fana maupun di alam baka binasa.


Sumber: Kompasiana.com

Rsi Markandeya menceritakan apa yang pernah dialaminya sewaktu terjadinya kiamat kepada Prabu Yudhistira. Setelah bumi tenggelam, Aku mengembara dengan hati duka di atas air bah yang sangat mengerikan itu dan tidak satupun makhluk hidup yang Ku jumpai. Aku tidak pernah beristirahat, Aku amat lelah dan tidak pernah menemui tempat untuk beristirahat tidak ada daratan yang terlihat semuanya dipenuhi oleh air. Aku terombang ambing sangat lama sampai dengan dipermukaan air yang sangat luas itu Aku melihat pohon beringin yang maha besar. Dan tiba-tiba aku menjumpai seorang anak muda yang roman mukanya putih bersih, duduk di atas balai-balai yang tersangkut pada dahan pohon beringin itu. Akupun sangat terheran-heran, Aku bertanya pada diriku sendiri. Bagaimana mungkin orang ini seorang diri duduk di sini, sedangkan alam semesta itu sendiri sudah hancur binasa?

Wahai Yudhistira, walaupun Aku mengetahui masa yang lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang, namun Akupun tidak mengerti akan kejadian itu. Namun melalui Samadhi, Aku akhirnya dapat mengetahui, ternyata beliau itu berasal dari daerah Hyang Laksmi sendiri

Akhirnya, insan yang suci itu berkata dengan lemah lembut kepadaku, begini : Aku mengetahui bahwa engkau sangat letih dan ingin beristirahat. Wahai Maha Muni (sebutan Rsi Markandeya), masuklah ke dalam diriku dan beristirahatlah disana
Setelah orang itu membuka mulutnya, entah karena tekdir, Akupun masuk ke dalam perut insan suci itu. Di sana aku melihat alam semesta. Aku menyasikan bumi dengan segala isinya. Aku menyasikan matahari, binatang dan bulan. Aku menyasikan samudra dengan segala isinya. Aku menyasikan sugai-sugai, gunung-gunung, hutan dan bermacam-macam tumbuhan dan binatang. Aku menyasikan Brahmana-Brahmana menyelenggarakan bermacam-macam upacara keagamaan. Aku menyasikan orang-orang yang tekun melakukan kebaikan untuk semua orang. Aku menyasikan orang-orang berdagang dan bercocok tanam, serta memberikan pelayanan satu dengan yang lain.
Ternyata alam baru ini, adalah alam Krta Yuga yang letaknya di alam lain. Maha Rsi Markandeya merupakan manusia abadi yang memperoleh anugrah dari hasil tapa brata yoga Samadhi yang dilakukannya sehingga iya diberi kesempatan untuk dapat mengetahui peristiwa yang akan terjadi di akhir zaman sampai dengan akhir dari maha pralaya dan kembali ke zaman keemasan (Krta-yuga).


Sumber :
Maharta Nengah & Wayan Seruni. Pengembangan Dan Pendalaman Agama Hindu. 2014. CV Seruni. Bandar Lampung.

https://www.kompasiana.com/triwidodo/5501075fa333113072512b5d/renungan-bhagavatam-resi-markandeya-dan-rahasia-maya

Thursday, June 6, 2019

AKHIR ZAMAN DAN HANCURNYA PERADABAN MANUSYA.

Ketika kita berbicara tentang akhir zaman maka sesuatu yang menakutkan akan muncul di benak kita dan hal ini berkaitan dengan pralaya/ kiamat atau hancurnya dunia berserta dengan segala isinya. Di dalam agama Hindu mengenal dengan adanya empat zaman yang disebut dengan Catur Yuga yaitu; Satya/krta (zaman keemasan), Treta (zaman perak), Dwapara (zaman perungu) dan Kali (zaman besi). Saat ini kita sudah berada di zaman Kali-Yuga yang artinya akhir dari keempat zaman dan setelah zaman Kali ini berakhir maka kita akan kembali lagi ke zaman keemasan Satya-Yuga.

Śukadeva Gosvāmi (putra Ṛṣi Vyāsa) memberikan ilustrasi keadaan yang akan terjadi di zaman Kali-Yuga kepada Mahārāja Parīkṣit (cucu Arjuna) dan beberapa Ṛṣi yang hadir di ruang persidangan. Percakapan ini terjadi pada awal Kali-Yuga. Zaman Kali-Yuga dimulai pada saat Śrī Kṛṣna meninggalkan permainan Rohani-Nya di dunia yaitu pada tanggal 17/18 Februari 3102 SM. Jadi, saat ini kita sudah memasuki usia zaman Kali-Yuga ke 5.121 tahun dari total usia zaman Kali-Yuga yaitu 432.000 tahun lamanya.  Saat zaman Kali berakhir maka Dewa Visnu akan turun dalam līlā-Nya sebagai avatāra Kalki dan memusnakan semua kejahatan (adharma) serta mengembalikan Dharma (kebaikan) dan setelah itu berakhir maka akan kembali ke zaman Satya-Yuga.

Ṛṣi Śukadeva Gosvāmi mengambarkan keadaan zaman Kali-Yuga dan hancurnya peradaban manusya yang juga diuraika dalam kitab suci Śrīmad-Bhāgavatam yaitu; dimana agama, kebenaran, kebersihan, toleransi, belas kasihan, lamanya kehidupan, kekuatan fisik dan ingatan-semua akan berkurang hari demi hari karena pengaruh kuatnya zaman Kali. (Śrīmad-Bhāgavatam 12.2.1).

Di Kali-yuga, kekayaan akan dianggap sebagai pertanda kelahiran yang baik, perilaku yang baik dan kualitas yang baik. Hukum dan keadilan akan diterapkan hanya berdasarkan kekuatan seseorang.  (Śrīmad-Bhāgavatam 12.2.2).

Pria dan wanita akan hidup bersama hanya karena daya tarik dari luar dan kesuksesan dalam bisnis akan tergantung pada tipu daya muslihat. wanita dan pria akan dinilai berdasarkan keahlian seseorang itu di dalam seks, dan seseorang akan dikenal sebagai brahmana hanya karena ia memakai tali suci. (Śrīmad-Bhāgavatam 12.2.3).

Posisi spiritual seseorang dilihat hanya berdasarkan simbol-simbol diluar dan atas dasar yang sama orang akan berganti keyakinan ke agama satu ke agama yang lainnya. Kecakapan seseorang akan dipertanyakan secara serius jika ia tidak mendapatkan penghasilan yang layak. Dan orang yang sangat pintar dalam permainan kata-kata akan dipandang sebagai sarjana terpelajar. (Śrīmad-Bhāgavatam 12.2.4).

Seseorang akan dinilai tidak suci jika dia tidak punya uang dan kemunafikan akan diterima sebagai kebajikan. Pernikahan akan diatur hanya dengan persetujuan lisan, dan seseorang akan berfikir dia pantas untuk tampil di depan umum jika dia sudah mandi. (Śrīmad-Bhāgavatam 12.2.5).

Tempat suci akan dianggap tidak lebih dari tempat penampungan air yang terletak di kejauhan dan keindahan akan dianggap tergantung pada gaya rambut seseorang. Mengisi perut akan menjadi tujuan hidup dan orang yang berani berkata-kata akan diterima sebagai orang yang benar. Dia yang dapat memelihara keluarga akan dianggap sebagai orang yang ahli, dan prinsip-prinsip agama hanya akan dipatuhi demi reputasi belaka. (Śrīmad-Bhāgavatam 12.2.6).

Warga akan menderita karena cuaca dingin, angin, panas, hujan dan salju. Mereka akan tersiksa lebih lanjut oleh pertengkaran, kelaparan, kehausan, penyakit dan kecemasan parah. (Śrīmad-Bhāgavatam 12.2.10).

Durasi maksimum kehidupan manusya di Kali-yuga akan menjadi lima puluh tahun. (Śrīmad-Bhāgavatam 12.2.11).

Pada saat zaman kali berakhir, tubuh semua makhluk akan sangat mengecil ukurannya dan prinsip-prinsip agama pengikut Varnaasrama akan hancur. Jalan Veda akan sepenuhnya dilupakan dalam masyarakat manusya, dan apa yang disebut agama sebagian besar bersifat ateistik. Raja-raja sebagian besar akan menjadi pencuri, pekerjaan manusia akan mencuri, berbohong, dan melakukan kekerasan yang tidak perlu dan semua kelas sosial akan dikurangi ke level sudra. Sapi akan menjadi seperti kambing, petapa rohani tidak akan berbeda dari seorang berumah tangga. Sebagian besar tanaman akan berukuran kecil  dan semua pohon akan tampak seperti pohon kerdil, śamī. Awan akan penuh kilat,  tumah-rumah akan tanpa kesalehan, dan semua manusia akan menjadi seperti keledai. Pada saat itu, personalitas tertinggi Tuhan Yang Maha Esa akan muncul di bumi. Bertindak dengan kekuatan kebaikan spiritual murni, Dia akan menyelamatkan agama abadi. (Śrīmad-Bhāgavatam 12.2.12-16).

Itulah tadi petanda dari akhir zaman dan juga hancurnya peradaban manusya yang diliputi oleh adharma yang berkuasa di zaman Kali-yuga. 

Sumber : @filsafat_hindu


Friday, May 31, 2019

Mending Bangun Cinta Dari Pada Jatuh Cinta


HinduJnana-Hayo siapa disini yang sedang jatuh cinta? Pasti semua orang pernah merasakan perasaan cinta dan mencintai seseorang. Kebayakan orang mengatakan cinta akan timbul bermula dari mata lalu kemudian turun kehati. Lalu apa sih itu cinta? Kenapa kita bisa mencintai orang lain?.

Banyak para ahli yang kebingung untuk mendefinisikan arti dari kata cinta itu sendiri, namun dari beberapa sumber dan juga kesepakatan dari para ahli mengatakan cinta itu memang sulit untuk didefinisikan, oleh karena cinta berhubungan dengan emosi, bukan dengan intelektual. Perasaan lebih berperan dalam cinta daripada proses intelektual.  Karena berkaitan dengan emosi, maka setiap orang dapat memberikan konsep tentang cinta sesuai dengan keadaan emosinya.   


Lalu kenapa kita bisa mencintai orang lain. Hal ini terjadi karena banyak faktor yang mempengaruhinya, menurut sains hal ini terjadi karena Gen kita yang mempengaruhi itu semua menurut ilmu pengetahuan bahwa siapa pun yang jatuh cinta, perasaan itu tercatat dalam DNA kita; terbawa dari satu generasi ke generasi lainnya. Dan inilah cinta otak mu dan gen mu yang memiliki kesamaan. Lalu adajuga yang berpendapat bahwa rasa cinta kepada orang lain timbul karena pandangan pertama, kebiasaan bersama (Witing Trisno Jalaran Soko Kulino) dan rasanyaman. 

Baca juga: Pengunaan Mantra dalam Japa
Dari bebrapa pendapat tersebut tau kah kita bahwa ternyata Hindu juga menjelaskan kenapa kita bisa mencintai orang lain dan bagaimana cinta itu muncul?. Perasaan cinta muncul dikarenakan bersemayamnya Dewa Kama dalam diri manusia,  hal ini bermula ketika dewa Siwa yang memutuskan untuk melakukan petapaan yang panjang setalah Ia ditinggalkan oleh Dewi Sati yang telah mengorbankan dirinya di dalam Api Suci. Dengan waktu yang sangat lama dan atas dasar dari permohonan Dewa Brahma dan Dewa Wisnu maka beliau Adi Sakti ibu dari alam semesta ini mau untuk kembali menitis kedunia dan terlahir kembali sebagai Dewi Parwati putri dari raja gunung dari Himalaya yang bernama Himawan.  Dengan berjalannya waktu akhirnya Dewi Parwati tumbuh besar dan memutuskan untuk pergi mengembara dan akhirnya ia menemukan gua tempat dimana Dewa Siwa melakukan Tapa Brata Yoga Samadhi, melihat Dewa Siwa yang sedang melakukan Samadhi yang sangat berat Dewi Parwati tidak berani untuk membangunkannya sehingga beliau hanya menunggu sampai Dewa Siwa kembali sadar dan selesai dari melakukan Samadhinya. Hal ini berlansung sangat lama dan kemudian para Dewa merasa kasian dengan Dewi Parwati akhirnya Dewa Indra memerintahkan Dewa Kama untuk membantu membangunkan Dewa Siwa dengan cara melepaskan panah asmara ke Dewa Siwa agar dia sadar akan pengorbanan Dewi Parwati. Akibat dari panah asmara yang dilesatkan oleh Dewa Kama mata ketiga Dewa Siwa pun terbuka dan seketika membakar habis tubuh dewa Kama sampai menjadi abu. Singkat cerita istri Dewa Kama yaitu Dewi Ratih tidak terima akan kematian Suaminya akhirnya beliau menuntut Dewa Siwa karena pada dasarnya Dewa Kama berniat baik, dan akhirnya Dewa Siwa akan menghidupkan kembali Dewa Kama namun tanpa memiliki raga “ananga” dan Iya tidak akan tinggal di Suarga Loka melainkan di bumi bersemayam di dalam tubuh semua makhluk hidup yang ada di bumi. Hal inilah yang menyebabkan manusia dan seluruh mahkluk hidup lainnya merasakan cinta dan kasih sayang satu sama lainnya.


Jadi sesuai dengan uraian di dalam Siwa Purana yang menguraikan tentang Dewa Kamajaya, maka perasaan saling mencintai, mengasihi dan menyayangi itu ada karena Dewa Kama yang berada didalam hati sanubari seluruh makhluk hidup. 

Kemudian ketika kita mencintai seseorang kenapa selalu disebut dengan Jatuh Cinta ? jika kita liat dari unsur katanya yaitu jatuh dan cinta. Jatuh sendiri sudah dipastikan kebawah dan cinta sendiri berkaitan dengan emosi, perasaan dan suatu sara yang sangat sulit untuk digambarkan. Ketika kita jatuh cinta dengan orang lain belum tentu orang lain itu juga merasakan hal yang sama rasa yang sama seperti yang kita rasakan begitu juga dengan pasangan kita. Nah hal ini juga yang menyebabkan cinta berlebihan dan ketika orang kita sayang itu pergi atau cinta kita bertepuk sebelah tanggan maka akan terasa sakit. Oleh karena itu dari pada jatuh cinta mending kita bangun cinta, kenapa begitu? Ketika kita ingin membangun sesuatu maka kita butuh bantuan kita tidak bisa melakukannya sendiri, butuh rencana, gambaran dan gol yang akan kita wujudkan. Begitu juga dengan bangun cinta, ketika kita ingin membangun cinta maka kita dan pasangan kita akan berkerjasama untuk mencapai tujuan yang sama, komitmen dan rasa saling menjaga agar rencana yang sudah ditata sedemikian rupa dapat terlaksana sesuai dengan target yang diharapkan, selain itu kita juga lebih semangat dalam menjalani hari-hari kita karena rasa cinta yang kita rasakan juga dirasakan oleh pasangan kita. 

Jadi dari pada jatuh cinta mending bangun cinta, karena jatuh itu sakit dan bangun itu semangat!!!


Saturday, May 18, 2019

Rangkaian Hari Suci Saraswati Tidak Hanya sekedar Ritual!.

RANGKAIAN DAN MAKNA HARI RAYA SARASWATI

Hari raya Saraswati jatuh pada hari sabtu umanis wuku watugunung yang diperingati sebagai hari pemujaan Bhatari Saraswati yakni sebagai Dewi Ilmu pengetahuan. Makna perayaan hari suci Saraswati adalah memohon kehadapan Dewi Saraswati sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan agar diberikan anugrah batin yang sempurna serta pengetahuan dan keterampilan yang unggul untuk menyucikan ketiga tindakan, yaitu; berbuat, berkata dan berpikir sehingga kita dapat mencapai kewibawaan dan kekuatan batin yang luar biasa (Krěta Ning Budhi Kawyajñana, Mukya Sanghyang Trikaya Mandala Pariśuddha Sarasa Ning Prabhawa Jñana Siddhi). 
Setelah memohon ilmu pengetahuan dihari suci Saraswati maka ke esokan harinya yaitu pada hari Minggu Pahing wuku Sinta diperingati sebagai hari suci Banyu Pinaruh, beliau menganugrai ilmu pengetahuan melalui air (Kehidupan). Bnayu Pinaruh ibarat seperti wisuda di sekolah ataupun di perguruan tinggi. Dengan telah diwisuda, itu berati bahwa umat Hindu telah selesai menempuh dan menyelesaikan pendidikan sehingga mendapat ijasah. Dengan berbekal pengetahuan, keterampilan, budi pekerti luhur dan ijasah itulah, umat Hindu mencari pekerjaan untuk mendapatkan nafkah guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Nafkah yang paling penting adalah pangan. Hal ini disimbolkan melalui perayaan hari suci Soma Riběk sebagai pemujaan kepada Bhatara Manik Galih (Dewa Beras/ Dewa Pangan), yang jatuh pada hari Senin Pon Wuku Sinta.
Kita sebagai manusia menyadari bahwa dalam kehidupan ini juga membutuhkan sarana yang lain, yaitu sandang dan papan. Hal ini disimbolkan melalui peringatan hari suci Sabuh Mas sebagai pemujaan kepada Bhatara Mahadewa (Dewa Kekayaan) yang jatuh pada hari Selasa Wage Sinta.
Apa yang telah berhasil diraih itu bagi umat Hindu merupakan hal yang patut disyukuri, dijaga, dilindungi, dipagari dengan baik dan sekuat-kuatnya, ibarat pagar besi, dengan memohon kekuatan perlindungan kepada Sanghyang Paramesti Guru. Hal ini disimbolkan melalui perayaan hari suci Pagěrwěsi.
Demikianlah kiranya makna dari perayaan hari suci Saraswati yang mencakup hari suci Banyu Pinaruh, Soma Riběk, Sabuh Mas, dan Pagěrwěsi. Yang tidak hanya sekedar ritual saja namun terkandung makna yang sangat besar didalamnya yang harus kita kaji dan pelajari lebih dalam lagi.
Sumber;

Suarka, I Nyoman. 2014. Sundarigama. Denpasar Timur. ESBE Buku.

Tuesday, April 30, 2019

Manusia Pertama Dalam Veda

MANUSIA PERTAMA DALAM VEDA

Veda membantah teori klasik Darwin dimana teori itu menyebutkan manusia berasal dari kera. Nenek moyang manusia adalah primat yang berevolusi menjadi manusia modern saat ini. Meski secara spiritual baik manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan  kita semua adalah sama yaitu sebagai sang roh (ātmā), badan ini hanyalah baju sang ātmā saja.
Lalu dari mana istilah manusia itu berasal ? Dan siapa manusa pertama itu ?. didalam kitab suci Bhagavad-gita7.3 disebutkan Manuşyāņāṁ sahasreşu. Manu= manusia pertama dan şya= keturunan, jadi “manuşya” artinya keturunan manu atau generasi dari Manu. Jadi sudah sangatlah jelas manusia adalah keturunan dari Manu yaitu manusia pertama. Selain itu Veda juga dapat menjelaskan bahwa konsep Adam & Hawa dari saudara-saudara kita agama Abrahamik bukanlah manuşya pertama. Riwayat Adam (Řşi Adama) & Hawa (Havyavati) yang muncul pada awal zaman Kali (50 abad silam) dijelaskan di dalam Bhavişya Purāņa, dan mereka bukanlah manuşya pertama menurut Veda.
Dalam alam satu Brahmāņda (alam semesta), pertama-tama, Brahmā sebagai kakek moyang makhluk hidup material yang lahir dari pusar Śri Vişņu, Brahma menciptakan Prajapati, 33 juta dewa pengendali alam material dan Manu. Brahma menciptakan Manu (laki-laki pertama) dan Saptarupa (wanita pertama) untuk melanjutkan proses penciptaan manuşya.
Satu hari dewa Brahma sama dengan 4.32 milyar tahun (1 hari Brahma disebut Kalpa). Dalam satu hari brahma terdapat 14 Manu (manu sama halnya seperti jabatan/ gelar sebagai manuşya pertama), 14 Manu itu iyalah :
1. Svāyambhuva Manu
2. Svārocişa Manu
3. Uttama Manu
4. Tāmasa Manu
5. Raivata Manu
6. Cākşuşa Manu
7. Vaivasvata Manu (kita adalah generasi dari Vaivasvata Manu)
8. Sāvarņi Manu
9. Dakşasāvarņi Manu
10. Brahma-sāvarņi Manu
11. Dharma- sāvarņi Manu
12. Ruda- sāvarņi Manu
13. Deva- sāvarņi Manu
14. Indra-sāvarņi Manu
Sekarang kita adalah keturunan dari Manu ke-7 yaitu Vaivasvata Manu. Beliau adalah putra Vaivasvata (dewa Matahari, Surya). Saat ini raja surga (Svargaloka), indra dijabat oleh Purandara.
Vaivasvata Manu adalah putra dari Vaivasvan (dewa Matahari) dengan istrinya Samjna. Vaivasvata Manu adalah Saudara dari Yami dan Yamaraja (hakim agung alam semesta). Pada zaman itu Raja Satyavrata (Vaivasvata Manu) terlahir sebagai putra Vaivasvan, raja planet matahari dan dia dikenal dengan nama Sraddhadeva. Atas karunia Tuhan Yang Maha Esa, Ia diberikan ke-dudukan sebagai Manu. (Srimad Bhagavatam 8.24.11)

Sumber; lawhelpbd.com


Kisah yang paling dikenal dari kehidupan Vaivasvata Manu adalah kisah Matsya Avatara melindungi penduduk bumi dari banjir bandang. Ketika banjir bandang pasca periode Caksusa Manu dan seluruh dunia tenggelam, Tuhan berikernasi sebagai ikan dan melindungi Vaisvavata Manu, dengan menempatkan beliau diatas kapal. (Srimad Bhagavatam 1.3.15)
Kisah Matsya Avatara ini terjadi pada awal periode Vaivasvata Manu pasca berakhirnya periode Caksusa Manu (Manu ke-6). Menurut Veda periode setiap Manu disebut Manvantara, satu Manvantara sama dengan 71 Mahayuga, kita sekarang hidup masih dalam putaran mahayuga yang ke 28. Satu Mahayuga terdiri dari 4 zaman (Satya; Treta; Dvapara dan Kali-yuga). Jadi satu Mahayuga sama dengan 4,320,000 tahun. 4,320,000x28, jadi banjir bandang ini terjadi kurang lebih 120,960,000 tahun yang lalu.

Monday, April 29, 2019

MAKNA DIBALIK WUJUD YANG MENYERAMKAN IBU KALIKA

MAKNA DIBALIK WUJUD MENYERAMKAN IBU KALIKA Om Swastyastu, Om Awighnam astu namo sidham Dewi Kali adalah wujud lain dari dewi Durga atau Parwati ketika sedang Krodha (Marah). Dibeberapa Purana Dewi Kali sering diceritakan bertarung melawan kejahatan atau yang sering disimbolkan sebagai para Asura, sosoknya yang menyeramkan membuat para musuhnya gemetar dan ketakutan.
Dewi kali sering digambarkan berkulit hitam, berkalungkan kepala manusia (Runda mālā), mengenakan tanggan-tanggan yang terputus sebagai pakaiannya, membawa kepala asura yang telah Ia penggal dan membawa mangkuk yang berisikan darah. Dari gambaran wujud yang menyeramkan Ibu Kali ini terdapat filosofi yang sangat dalam jika kita mau mengupas dan mempelajarinya dengan sunguh-sungguh, dan adapun makna yang terdapat dari wujud Dewi Kali yaitu diataranya :  Kulit yang hitam melambangkan bentuk dari kesucian yang sebenarnya, hal ini juga pernah diungkapkan oleh Sri Krisna saat perang Bharata Yudha ketika Ia hendak membunuh Bhisma yang agung dan ditahan oleh Arjuna, saat itu Arjuna mencoba untuk mengingatkan kembali sumpah Krisna bahwa tidak akan ikut berperang dalam perang saudara itu, Arjuna mengatakan jika Engkau langgar sumpah Mu maka sama halnya engkau akan menodai kelahiran mu, saat itulah Sri Krisna menjawab Aku adalah Hitam Arjuna tidak ada yang dapat menodai Ku sama sekali. Begitulah juga kulit hitam yang dimiliki Ibu Kali melambangkan kesucian yang tak dapat ternodai.  Berkalungkan kepala manuṣya (Runda-mala) di leher Bhagavati melambangkan semua kepribadian palsu yang kita wujudkan dengan topeng yang kita tampilkan ini semuanya menghalangi dan mengaburkan pengetahuan tentang sifat sejati kita (sebagai ātman)  Kepala asura yang dipegang oleh Bhagavati Kalika mewakili konsep diri kita yaitu ahankara (ego). Ego adalah konsep diri kita sebagai individu yang terpisah dari Tuhan dan merupakan fondasi di mana bangunan kebodohan dan khayalan dibangun di dalamnya.  Tangan-tangan terputus sebagai pakaian-Nya. Ini mewakili tindakan menusya yang tak terhitung jumlahnya atau karma (kegiatan). Karena pemikiran yang salah, manusya mencoba mencari kenikmatan melalui persepsi indera-indera badannya yang sebenarnya tidak pernah benar-benar membawa kebahagiaan tertinggi yang diharapkan  Mangkok berisikan darah. Asura yang merupakan musuh bagi Bhagawati (sebagai Dewi Camunda) adalah Raktabija-yang setiap tetes darah asura yang tertumpah menghasilkan asura yang lain seperti dia ini mewakili keinginan material kita. Setiap keinginan itu terpenuhi maka akan menghasilkan keinginan lain yang sama kuatnya. Satu-satunya cara untuk mengakhiri siklus ini adalah memenggal sang iblis itu dan meminum darahnya. Minum darah melambangkan melahap semua keinginan material; keadaan ilusi (gila); atau keterikatan yang merupakan dasar bagi penderitaan eksistensial jiwa yang terikat. Bhagawati Kalika ini adalah simbul dari prakrti atau alam semesta material. Dan ia berdiri diatas badan Mahakala Bhairawa (Siwa) yang adalah Brahman (Tuhan) tanpa Brahman, alam semesta tidak akan bisa bersandar, karena itu Mahakali memakai Mahakala sebagai wimana (kendaraan-Nya). Sebelum penciptaan, Tuhan esa tiada duanya nemun ketika penciptaan terjadi, Tuhan membagi Diri-Nya menjadi 2 yaitu Purusa (Siwa/unsure kesadaran/atman) dan Prakerti (Parwati atau kali yang adalah alam material, zat atau unsur kesar). Analogi ini bukanlah Tuhan telah menjadi ganda, malainkan dualitas itu adalah karakter sifat alami Tuhan sendiri, sebagaimana matarai tidak bisa lepas dari sinarnya atau air dengan sifat cairnya. Om Shanti, Shanti, Shanti Om.

Saturday, April 27, 2019

Dewi Kali Sebagai Dewi Kematian

Om Swastyastu, Dewi kematian atau yang sering disebut sebagai Dewi Kali adalah sakti dari Dewa Siwa dan juga sebagai salah satu perwujutan dari Dewi Durga atau Parwati. Dalam mitologi Hindu Durga dikenal sebagai dewi yang menyeramkan dianggap sebagai penjelmaan Uma atau Parwati dalam bentuk Krodha (Marah). Sumber: stongholdfbali.wordpress.com Dewi Kali sendiri merupakan lambang dari kematian yang sering digambarkan sebagai seorang wanita yang berkulit hitam dan berwajah menyeramkan; berlumuran darah dan berkalungkan tengkorak serta ular. Kata kali sendiri memiliki arti kala atau waktu. Kala atau waktu adalah pemusnah utama alam semesta ini. Waktu merupakan aliran arus yang bergerak tanpa henti-hentinya. Di dalam Bhagawad-gita XI.32 disebutkan : Śri bhagavān uvāca, Kālo ‘smi loka-kṣaya-kṛt pravṛddho Lokān samāhartum iha pravṛttaḥ, ṛte ‘pi tvāṁ na bhaviṣyanti sarve ye ‘vasthitāḥ pratyanīkeṣu yodhāḥ. Artinya : Tuhan bersabda, Aku adalah Sang Kala Penghancur alam semesta. Aku keluar untuk menghancurkan orang-orang ini. Bahkan tanpa engkau, semua pahlawan yang berjejer dalam jajarannya musuh sudah terbunuh oleh-Ku. Dewi Kali atau sang penguasa waktu sering digambarkan berkalungkan tengkorak sebagai lambang kematian. Wajahnya mengerikan simbol bahwa kematian ditakuti manusia. Lidahnya menjulur keluar sebagai simbol bahwa tiada hari tanpa kematian, kematian selalu lapar, setiap orang akan ditelan oleh maut. Bersama suaminya Dewa Siwa, Dewi Kali bertugas melebur segala makhluk yang sudah tak layak hidup di dunia. Om Santi, Santi, Santi Om.

Saturday, February 16, 2019

PENGUNAAN MANTRA DALAM JAPA

PEMAKAIAN MANTRA DALAM JAPA
Alam semesta muncul dari suara yang tak termusnahkan, serta dikendalikan oleh suara. Pikiran kosmis ditenangkan oleh suara, tetapi hal ini merupakan rumusan pemikiran yang terbatas dan memiliki penekanan, yang disebut sebagai mantra. Pengulangan mantra śuci selama beberapa kali disebut Japa. Dalam Bhagavad-Gita, Śri Krisna bersabda, “Diantara yajna Aku adalah japa yajna”. Yajna di sini artinya adalah kurban dan segenap alam semesta serta kebenaran ditegakkan dalam yajna. Vidhi yajna merupakan kurban ritualistik, dravya yajna adalah pemberian sedekah, jnana yajna adalah pemberian kebijaksanaan dan tapa yajna adalah berbagi pengetahuan atau kesederhanaan untuk mewujudkan kebenaran. Walaupun terdapat demikian banyak macam yajna, mengapa Śri Krisna menekankan pada masalah japa yajna? Alasannya, sesuai dengan Lingga Purana adalah bahwa semua yajna lainnya, beberapa jenis ketidak adilan terlibat. Hanya japa yajna sendirilah yang murni dan sederhana, khususnya apabila pengulangan mantra tersebut adalah mental. Yang kedua, tujuan dari semua yajna adalah perwujudan Tuhan, tetapi kebanyakan yajna dilaksanakan guna pencapaian kebahagiaan duniawi atau surgawi, yaitu pemenuhan dari keinginan. Tetapi tujuan pelaksanaan japa adalah tanpa keinginan dan pencapaian penerangan, yaitu dicapai secara berhasil dalam pengulangan secara mental pada mantra tersebut. Menurut Agni Purana, definisi japa adalah sebagai berikut : suku kata “Ja” menghancurkan siklus kelahiran dan kematian sedangkan suku kata “Pa” menghancurkan segala dosa. Jadi yang menghancurkan segala dosa dan yang menghentikan siklus kelahiran dan kematian serta membebaskan sang roh dari ikatan adalah japa. Teknik berjapa ada dua bentuk, yaitu Vacika atau secara oral dan manasika atau secara mental. Dalam vacika japa, ada dua macam cara, yaitu Upamsu atau pengucapan mantra dengan menggerakan bibir tanpa menimbulkan suara, sedangkan cara lainnya adalah oral, yaitu gerakan bibir yang disertai dengan suara. Dalam Vacika japa atau japa secara oral, mantra diucapkan dengan sangat jelas sehingga dapat didengar oleh orang lain, sedangkan apabila hanya mengucapkan japa itu sendiri saja yang mendengar tanpa orang lain yang berdekatan dan hanya gerak bibir saja yang tampak, maka japa tersebut disebut sebagai Upamsu. Dalam japa mantra atau manacika japa adalah meditasi pada jiwa dari mantra serta arti dari kata-kata suci tersebut, tanpa mengerakan lidah atau bibir, sedangkan bermeditasi pada irama pernafasan disebut Ajapajapa. Di anatara bermacam-macam cara pengucapan mantra tersebut pengulangan mantra secara mental dianggap sebagai yang tertinggi. Bhagavan Manu menyatakan : (1) “Vacika japa 10 kali lebih bermanfaat dari pada pelaksanaan upacara kurban. (2) Upamsu japa 100 kali lebih baik, sedangkan (3) manasika japa 1000 kali lebih bermanfaat”. Bagi para pemula, melaksanakan japa mental mungkin agak sukar sehingga hal-hal berikut perlu diperhatikan. Guna penghancur tamo guna, atau kelembamam, seseorang harus mengulang mantra secara keras, yaitu dengan Vacika Japa. Untuk memurnikan rajo guna, atau nafsu, seseorang dapat mengusahakan pelaksanaan Upamsu Japa. Yang pikirannya tenang atau penuh dengan Sattvam guna sajalah yang layak atau mampu untuk melaksanakan mental japa atau Manasika Japa. Sudah barang tentu seseorang yang telah mencapai kesempurnaan dapat mempergunakan salah satu cara diatas untuk mengajar umat manusia, tetapi bagi para pemula disiplin ini perlu diajarkan. Dalam Lingga Purana, Dewa Siwa bersabda kepada parvati: “Devi, pada semua yajna lainnya, beberapa bentuk ketidak adilan dilakukan, apakah itu melalui pikiran, perkataan, maupun perbuatan, tetapi dalam Japa Yajna tak ada ketidak adilan semacam itu. Itulah sebabnya mengapa Japa Yajna merupakan yang terbesar dari semuanya”. Para makhluk setengah dewa, goblin, setan dan hantu tak dapat mendekati seseorang yang mengulang-ngulang manta suci. Japa menghancurkan timbunan kegiatan (karma) dan ia memberikan segala kebahagiaan serta membawa seseorang dari ikatan menuju ke pembebasan. Menurut Tantrasara, mental japa dapat dilakukan pada sembarang tempat dan sembarang waktu. Lingga Purana memberikan suatu manfaat besar terhadap keadaan sekeliling tertentu dari pada keadaan tempat lainnya. Dikarenakan bahwa : Apabila kamu melaksanakan japa dalam rumahmu, manfaatnya hanya sebanyak hitungan dari japa itu sendiri, sedangkan apabila dilakukan dalam sebuah kandang sapi, manfaatnya seratus kali lebih banyak. Apabila japa yang sama dilakukan pada tepian sebuah sungai yang suci, manfaatnya 100.000 kali lebih besar dari pada kedua pelaksanaan di atas. Apabila japa yang sama dilakukan di muka suatu gambaran Tuhan, manfaatnya menjadi tak terhitung. Pada tepian sebuah samudra, pada pegunungan, kuil, tempat peziarahan, manfaat dari japa tak terbilang. Japa yang dilakukan di depan gambar Tuhan atau merenungkan bintang kutub dan dewa matahari sangatlah bermanfaat. Japa yang dilakukan di depan sebuah nyala api dan sapi sangatlah berpahala, demikian pula mantra suci dan japa yang dilakukan di depan guru, pengajar spiritual. Dalam Tantrasara dikatakan bahwa, Japa yang dilakukan dalam taman tumbuhan tulasi, ataupun pohon bilva yang dikasihi Siva atau diantara pepohonan ara suci di pegunungan, pada tepian sungai dalam kandang sapi, di sekeliling kuil, di pusat-pusat tempat peziarahan, atau pada kehadiran guru spiritual mengendalikan pikiran menjadi sangat mudah dan pengulangan mantra secara pasti akan memberikan kesempurnaan dan pencapaian kenikmatan spiritual. Sumber- I Wayan Maswinara. 2009. Gayatri Sadhana Maha Mantra Menurut Weda. Surabaya. Paramita 168 hlm

Manusia Pertama Dalam Veda

MANUSIA PERTAMA DALAM VEDA Veda membantah teori klasik Darwin dimana teori itu menyebutkan manusia berasal dari kera. Nenek moyang manusia...